Jumat, 27 April 2012

KELOMPOK DALAM ORGANISASI



kelompok merupakan suatu kumpulan orang yang berinteraksi satu sama lain secara teratur dalam suatu periode tertentu, dan merasakan adanya ketergantungan diantara mereka dalam rangka mencapai satu atau lebih tujuan bersama. Sedangkan organisasi adalah suatu organisasi bisa diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok dalam organisasi ialah kumpulan dari dua atau lebih manusia yang saling berkumpul bersama untuk memecahkan suatu masalah atau mencari suatu solusi tertentu untuk mencapai suatu tujuan bersama.

·         Peran kelompok dalam suatu organisasi
keterlibatan kelompok dalam suatu organisasi dapat dilakukan dengan mekanisme pembagian atas individu–individu agar membentuk suatu kumpulan yang mempunyai pola dan sistem kerja.
          Suatu kelompok pada dasarnya adalah sekumpulan individu yang berada dalam suatu organisasi dimana para anggotanya saling mempunyai ketergantungan satu sama lain dalam melaksanakan suatu kinerja secara terstruktur.
Organisasi lebih mengutamakan atas pencapaian tujuan dasar yang lebih mengedepankan kepada hasil yang ingin dicapai. Suatu kinerja kelompok akan lebih efisien ketika di letakkan di ruang lingkup organisasi karena suatu tujuan akan lebih cepat tercapai jika didalam pengelolaannya dikerjakan secara berstruktur atau berkelompok.

·         Pengertian Kelompok
Disini akan saya jelaskan mengenai definisi dari kelompok menurut beberapa ahli, yaitu sebagai berikut:

1. Interaksi Interpersonal
a) Homans (1950) : Kelompok adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota secara langsung.
b) Bonner (1959) : Kelompok adalah sejumlah individu yang berinteraksi dengan individu yang lain.
c)  Stogdill (1959) : Satu sistem interaksi terbuka dimana pola interaksi tersebut   ditentukan oleh struktur sistem tersebut.

2. Persepsi Keanggotaan
a) Smith (1945) : Kelompok sosial adalah satu unit yang terdiri dari sejumlah organisme yang mempunyai persepsi kolektif tentang kesatuan mereka dan mempunyai kemampuan untuk berbuat dan bertingkah laku dengan cara yang sama terhadap lingkungan.
b) Bales (1950) : Kelompok kecil adalah sejumlah orang yang berinteraksi secara langsung dimana masing-masing anggota menerima persepsi dan impresi pertama dengan yang lain dan memberi reaksi satu dengan yang lain.

3. Kesaling tergantungan
a) Lewin (1951) : Konsep tentang kelompok sebagai satu dinamika haruslah memasuki definisi tentang kesaling tergantungan anggota. 
b) Friedler (1967) : Kelompok itu adalah individu yang mempunyai takdir bersama dimana jika satu kejadian mempengaruhi seseorang dalam kelompok maka anggota lain akan terpengaruh. 
c) Cartwright dan Zender (1968) : Kelompok itu sekumpulan individu yang mempunyai hubungan antar anggota yang satu dengan yang lain yang membuat mereka saling tergantung dalam tingkatan tertentu.

4. Tujuan
a) Mills (1967) : Kelompok adalah satu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih yang bekerja sama atau melakukan kontak untuk mencapai satu tujuan dan yang mempertimbangkan kerjasama diantara kelompok sebagai satu yang berarti.
b) Freedman (1936) : Orang masuk dalam kelompok antara lain dalam rangka mencapai tujuan kelompok tersebut.

5. Motivasi
a) Catell (1951) : Kelompok adalah sekumpulan organisme yang saling berhubungan satu dengan lain untuk memenuhi kebutuhan tiap anggota.
b) Bass (1960): Kelompok adalah sekumpulan individu dimana keberadaannya sebagai kelompok menjadi reward.

6. Organisasi Terstruktur
a) Mc David dan Harari : Organisasi sebagai kelompok adalah sistem terorganisasi dimana ada dua orang atau lebih individu yang berhubungan dalam fungsi yang sama, mempunyai seperangkat standar tentang hubungan peran anggota dan mempunyai morma yang mengatur tingkah laku anggota kelompok.
b) Sherif dan Sherif (1959) : Kelompok adalah unit sosial yang ditandai sejumlah individu yang mempunyai status, hubungan peran, norma tertentu yang semuanya itu mengatur tingkah laku anggota kelompok.
c) Stogdill (1959) : Satu sistem interaksi terbuka dimana pola interaksi tersebut ditentukan oleh struktur sistem tersebut.

7. Mutual Influence
a) Shaw (1979) : Dua atau lebih individu yang berinteraksi satu dengan yang lain dimana masing-masing anggota mempengaruhi satu dengan yang lain.

Maka dapat saya simpulkan bahwa pengertian kelompok tidak terlepas dari unsur-unsur berupa keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Namun ini tidak berlaku bagi sekumpulan individu yang tidak memenuhi unsur-unsur di atas, maka belumlah dikatakan sebagai kelompok misalnya penonton sepakbola yang menjadi sekumpulan individu namun mereka tidak saling mengenal dan tidak melakukan interaksi.

·         Peran individu dalam suatu organisasi
keterlibatan dan partisipasi anggota {individu} dalam organisasi menjadi menjadi lebih penting ketika organisasi tersebut memulai suatu fungsi karena tanpa keterlibatanya kegunaan atau fungsional organisasi tersebut tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Keterlibatan dan partisipasi juga cenderung menghasilkan suatu kinerja, pola kegiatan serta hasil dari keterlibatan seluruh unsur manusia dalam organisasi akan menghasilkan suatu fungsi dalam organisasi.
Masing–masing dari individu tersebut di dalam suatu organisasi mempunyai peran yang beragam dan mempunyai keterikatan terhadap suatu wadah, yaitu organisasi. Individu merupakan komponen vital dalam suatu organisasi tetapi tidak efisien jika “individu” ingin mencapai suatu tujuan dasar organisasi. Karena individu tidak mempunyai struktur dan sistem untuk mencapai suatu tujuan organisasi.

·         KELOMPOK FORMAL DAN INFORMAL

·         Kelompok Formal
Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan dan anggotanya diangkat oleh organisasi. Dan  merupakan kelompok yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara tegas disusun. kelompok formal harus memiliki tujuan atau sasaran . Tujuan kelompok ini akan menentukan struktur kelompoknyanya. Jadi, struktur kelompok merupakan suatu kerangka yang menunjukkan seluruh kegiatan-kegiatan untuk pencapaian tujuan kelompok , hubungan antar fungsi-fungsi, serta wewenang dan tanggung jawabnya.

·         KELOMPOK KERJA FORMAL
Dalam hal ini mempunyai beberapa tipe utama kelompok kerja formal,yaitu:
1.  Kesatuan tugas khusus (special task forces) : Kesatuan tugas khusus atau tim, dibentuk untuk menangani suatu masalah atau tugas khusus. Kesatuan ini keberadaannya hanya sampai tugas diselesaikan atau masalah terpecahkan. Kesatuan tugas biasanya dibentuk untuk menangani masalah - masalah dan tugas –tugas yang kompleks dan melibatkan beberapa satuan kerja organisasi yang meliputi para wakil dari suatu organisasi, ditambah para ahli yang secara teknis diperlukan untuk menangani masalah atau tugas.
2.  Panitia : Panitia tetap (standing committess ) dan panitia Ad hoc. Panitia tetap ( dikenal sebagai panitia sruktural ) adalah bagian tetap dari struktur suatu organisasi yang dibentuk untuk menangani tugas yang terus-menerus ada dalam organisasi seperti panitia anggaran, panitia pengembangan, produk baru, panitia pembelian, dsb. Panitia ini biasanya membuat rekomendasi formal kepada menejer tingkat atas atau mempunyai wewenang untuk membuat keputusan sendiri bagi suatu kegiatan organisasi yang terbatas. Panitia Ad Hoc mempunyai fungsi yang serupa dengan panitia tetap, hanya tidak bersifat tetap. Tujuan dibentuknya panitia manajemen adalah untuk mengkoordinasikan dan mempertukarkan informasi, memberi saran manajemen, puncak atau bahkan membuat keputusan sendiri.
3.   dewan atau komisi: merupakan kumpulan dari orang yang mempunyai hak memutuskan dalam suatu kelompok kerja dan merupakan suatu kelompok yang berhak memutuskan atau pencarian solusi dengan kesepakatan bersama dalam memutuskan hal tersebut atau pilihan yang akan diambil oleh suatu kelompok.

·         KELOMPOK INFORMAL
Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan seseorang.Keanggotaan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaanya biasanya ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok.Kelompok ini terjadi pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan simpati.

Kebutuhan-kebutuhan yang mendasari terbentuknya organisasi informal :
1. Kebutuhan sosial
Orang membutuhkan lebih dari sekedar komunikasi yang bersifat formal berdasarkan struktur dalam kelompok formal. Orang butuh lebih dari itu untuk memenuhi kebutuhannya sosialnya.
2. Pengetahuan perilaku yang dapat diterima
Melalui kelompok informal, orang akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tentang berbagai perilaku yang dapat diterima di lingkungan organisasi. Hal tersebut tentu saja tidak mungkin disampaikan dalam kelompok formal.
3. Perhatian / simpati
Membangun perhatian atau simpati dapat pula dilakukan melalui organisasi informal,karena disini orang melakukan proses sosialisasi tanpa adanya batas atau tanpa melihat posisi dalam kelompok formalnya.
4. Bantuan dalam pencapaian tujuan
Organisasi informal juga membantu kelompok formal dalam mencapai tujuannya, melalui bentuk komunikasi untuk mempermudah anggota kelompok lebih paham tanpa melalui saluran-saluran yang resmi.
5. Kesempatan berpengaruh dan berkreasi
Melalui kelompok informal seseorang diberi kebebasan untuk berkreasi dan mempengaruhi orang lain sesuatu yang mungkin tidak pernah terjadi ( karena posisi yang dimilikinya ) dalam kelompok formalnya.
6. Pelestarian nilai-nilai budaya
Secara sadar atau tidak sadar, organisasi kelompok turut melestarikan dan mensuburkan nilai-nilai budaya yang dimiliki kelompok. Walaupun secara formal budaya ini juga disampaikan dan dikembangkan pada seluruh anggota kelompok.
7. Komunikasi dan informasi
Kebutuhan terakhir yang mendasari kelompok informal adalah kebutuhan akan komunikasi dan informasi. Terutama komunikasi dan informasi yang tidak bisa disampaikan atau tertutup melalui organisasi formal.

Pada hal ini yang menjadi pembeda antar kelompok formal dan informal adalah terletak pada aturan-aturan yang diberlakukan.

Ø  Pengalaman Dalam Berkelompok
Dari mulai smp sampai masuk di perguruan tinggi pasti kita tidak terlepas dari yang namanya suatu kelompok, baik itu kelompok tugas ataupun kelompok belajar. sesuai dengan pengalaman saya pada saat ditugaskan oleh dosen membentuk suatu kelompok untuk membuat suatu makalah yang natinya harus  dipersentasikan, dan kebetulan saya disitu ditunjuk sebagai ketua kelompok. Disini saya mulai memainkan tugas saya sebagai ketua kelompok yaitu dengan mengumpulkan para anggota kelompok saya dan mulai membagi-bagikan tugas kepada anggota kelompok saya. Adapun kendala yang saya dapat dari situ yaitu ada beberapa anggota saya yang tidak dapat menemukan materi yang saya bagikan untuk pembuatan makalah tersebut, dan pada saat itu saya mulai membackup atau menghandle tugas anggota yang tidak dapat menemukan materi yang tidak dapat dia cari. Setelah semua materi dari anggota lain dikumpulkan bersama , saya mulai menyusun materi tersebut dan setelah materi tersebut telah tersusun rapih dan telah di edit. Saya mulai menujuk salah satu anggota yang bertugas untuk mengeprint dan menjilid makalah yang akan di persentasikan tersebut. Disini dapat saya simpulkan bahwa suatu teamwork atau kelompok dalam mengerjakan suatu tugas lebih untung dibandingkan dengan seseorang yang individualis (bekerja sendirian). Karna dengan adanya kelompok , tugas yang kita akan cari dapat lebih ringan karna adanya pembagian tugas yang akan dikerjakan dan dapat menguntungkan kita dari segi tenaga, pikiran dan efisiensi waktu pengerjaan tugas tersebut.

DISADUR DARI:

Kamis, 26 April 2012

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Keputusan adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh seorang orang atau beberapa orang yang berkenaan dengan suatu masalah. Tindakan tersebut dapat berupa kebijakan pengambilan keputusan yang biasanya bukan merupakan keputusan tunggal, artinya keputusan diambil dengan cara mengambil beberapa keputusan yang saling terkait dengan masalah yang ada. Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai pemilihan alternatif terbaik dari beberapa pilihan alternatif yang tersedia. Ada beberapa definisi teori pengambilan keputusan menurut beberapa tokoh diantaranya sebagai berikut.

DEFINISI TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENURUT BEBERAPA TOKOH:

Ø  Fred Luthans dalam bukunya Perilaku Organisasi menyebutkan bahwa pengambilan keputusan didefinisikan secara universal sebagai pemilihan alternatif.
Ø   Chester Barnard dalam The Function of the Executive bahwa analisis komprehensif mengenai pengambilan keputusan disebutkan sebagai suatu “proses keputusan yang merupakan teknik untuk mempersempit pilihan”.
Ø  Sementara dalam bahanajar DR. Mohammad Abdul Mukhyi, SE., MM bahwa membuat keputusanadalah “The process of choosing a course of action for dealing with a problem or opportunity”. Proses pemilihan keputusan untuk kesepakatan dalam pemecahan masalah.
Ø  G. R. Terry Pengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai “pemilihan alternatif kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada”.
Ø  Harold Koontz dan Cyril O’Donnel Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
Ø  Theo Haiman Inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah.
Ø  Drs. H. Malayu S.P Hasibuan Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.
Ø  Chester I. Barnard Keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relative dan dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan erat kaitannya dengan pemilihan suatu alternatif untuk menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah serta memperoleh kesempatan.
  


Ø  Berdasarkan kompleksitasnya keputusan organisasi dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni:

        1. Keputusan Terprogram
Merupakan keputusan yang berulang dan telah ditentukan sebelumnya, dalam keputusan terprogram prosedur dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami organisasi. Keputusan terprogram memiliki struktur yang baik karena pada umumnya kriteria bagaimana suatu kinerja diukur sudah jelas, informasi mengenai kinerja saat ini tersedia dengan baik, terdapat banyak alternatif keputusan, dan tingkat kepastian relatif yang tinggi. Tingkat kepastian relatif adalah perbandingan tingkat keberberhasilan antara 2 alternatif atau lebih. Jenis pengambilan keputusan ini juga.mengandung suatu respons otomatik terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Masalah yang bersifat pengulangan dan rutin dapat diselesaikan dengan pengambilan keputusan jenis ini. Tantangan yang besar bagi seorang analis adalah mengetahui jenis-jenis keputusan ini dan memberikan atau menyediakan metode-metode untuk melaksanakan pengambilan keputusan yang terprogram di mana saja. Agar pengambilan keputusan harus didefinisikan dan dinyatakan secara jelas. Bila hal ini dapat dilaksanakan, pekerjaan selanjutnya hanyalah mengembangkan suatu algoritma untuk membuat keputusan rutin dan otomatik. Dalam kebanyakan organisasi terdapat kesempatan-kesempatan untuk melaksanakan pengambilan keputusan terprogram karena banyak keputusan diambil sesuai dengan prosedur pelaksanaan standar yang sifatnya rutin. Akibat pelaksanaan pengambilan keputusan yang terprogram ini adalah membebaskan manajemen untuk tugas-tugas yang lebih penting.Contoh keputusan terprogram adalah, aturan umum penetapan harga pada industri rumah makan dimana makanan akan diberi harga hingga 3 kali lipat dari direct costan, kompen atau denda karna telat melakukan pengembalian buku ke perpustakaan, pemberian cuti kepada mahasiswa karna ada suatu hal yang bermasalah, pemutusan sambungan telepon atau listrik dikarenakan terlambat melakukan pembayaran.

    Kasus yang paling mudah dilihat atau ditemukan pada keseharian kita adalah disaat kita akan meminjam buku di perpustakaan , pasti yang pertama kali kita keluarkan pada saat ingin meminjam buku ialah kartu perpustakaan , dimana berarti kita telah terdaftar sebagai anggota perpustakaan dan berhak untuk meminjam. dan disitu pun telah terdapat peraturan-peraturan yang diberitahu. Terutama  biasanya apabila kita telat pada saat pengembalian buku dan atau diluar waktu yang telah ditetapkan pada saat pengembalian buku, maka kita akan diberikan denda karna keterlambatan pengembalian buku tersebut. Dan peraturan itulah yang disebut sebagai keputusan terprogram.


     2. Keputusan Tidak Terprogram

Keputusan ini belum ditetapkan sebelumnya dan pada keputusan tidak terprogram tidak ada prosedur baku yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Keputusan ini dilakukan ketika organisasi menemui masalah yang belum pernah mereka alami sebelumnya, sehingga organisasi tidak dapat memutuskan bagaimana merespon permasalahan tersebut, sehingga terdapat ketidakpastian apakah solusi yang diputuskan dapat menyelesaikan permasalahan atau tidak, akibatnya keputusan tidak terprogram menghasilkan lebih sedikit alternatif keputusan dibandingkan dengan keputusan terprogram selain itu tingginya kompleksitas dan ketidakpastian keputusan tidak terprogram pada umumnya melibatkan perencanaan strategik.dan juga menunjukkan proses yang berhubungan dengan masalah-masalah yang tidak jelas. Dengan kata lain, pengambilan keputusan jenis ini meliputi proses- proses pengambilan keputusan untuk menjawab masalah-masalah yang kurang dapat didefinisikan. Masalah-masalah ini umumnya bersifat kompleks, hanya sedikit parameter'parameter yang diketahui dan kebanyakan parameter yang diketahui bersifat probabilistik. Untuk menjawab m'asalah ini diperlukan seluruh bakat dan keahlian dari pengambilan keputusan, ditambah dengan bantuan sistem infofmasi. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan keputusan tidak terprogram dengan baik. Perluasan fasilitas-fasilitas pabrik, pengembangan produk baru, pengolahan dan pengiklanan kebijaksanaan-kebijaksanaan, manajemen kepegawaian, dan perpaduan semuanya adalah contoh masalah-masalah yang memerlukan keputusan-keputusan yang tidak terprogram. Sangat banyak waktu yang dikorbankan oleh pegawai-pegawai tinggi pemerintahan, pemimpin-pemimpin perusahaan, administrator sekolah dan manajer organisasi lainnya dalam menjawab masalah dan mengatasi konflik. Ukuran keberhasilan mereka dapat dihubungkan secara langsung kepada mutu informasi yang mendasari tugas ini. Contoh kasusnya: keputusan untuk membangun dan mengembangkan pabrik baru disini kita tidak mengetahu bagaimana prospek kedepannya apabila, pada saat proses pembangunan berlangsung terdapat trouble atau kendala-kendala yang pada akhirnya akan menambah pengeluaran dan memperlambat waktu penyelesaian pabrik tersebut, keputusan suatu perusahaan untuk melakukan merger karena untuk menghindari kerugian dan kepailitan.

Disadur dari:

Kamis, 01 Maret 2012

PENGERTIAN SERTA PERBEDAAN KEKUASAAN DAN KEWENANGAN


PENGERTIAN KEKUASAAN DAN WEWENANG

Kekuasaan:

Power sering diartikan sebagai kekuasaan. Sering juga diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki oleh suatu pihak yang digunakan untuk memengaruhi pihak lain, untuk mencapai apa yang diinginkan oleh pemegang kekuasaan. Max Weber dalam bukunya Wirtschaft und Gesselshaft menyatakan, kekuasaan adalah kemampuan untuk, dalam suatu hubungan sosial, melaksanakan kemauan sendiri meskipun mengalami perlawanan. Pernyataan ini menjadi rujukan banyak ahli, seperti yang dinyatakan Harold D. Laswell dan A. Kaplan,” Kekuasaan adalah suatu hubungan dimana seseorang atau kelompok dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain kearah tujuan pihak pertama.”

Kewenangan:

Kewenangan (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu. Kewenangan biasanya dihubungkan dengan kekuasaan. Penggunaan kewenangan secara bijaksana merupakan faktor kritis bagi efektevitas organisasi.
Kewenangan digunakan untuk mencapai tujuan pihak yang berwenang. Karena itu, kewenangan biasanya dikaitkan dengan kekuasaan. Robert Bierstedt menyatakan dalam bukunya an analysis of social power , bahwa kewenangan merupakan kekuasaan yang dilembagakan. Seseorang yang memiliki kewenangan berhak membuat peraturan dan mengharapkan kepatuhan terhadap peraturannya.
Kewenangan juga merupakan kekuasaan yang memiliki keabsahan ( legitime power ), sedangkan kekuasaan tidak selalu memiliki keabsahan. Apabila kekuasaan politik di rumuskan sebagai kemampuan menggunakan sumber-sumber untuk mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik, maka kewenangan merupakan hak moral sesuai dengan nilai-nilai dan norma masyarakat, termasuk peratuaran perundang-undangan.Wewenang merupakan hak berkuasa yang di tetapkan dalam struktur organisasi sosial guna melaksanakan kebijakan yang di perlukan.

PERBEDAAN WEWENANG DENGAN KEKUASAAN

       Dari pengertian diatas maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa perbedaan dari wewenang dengan kekuasaan ialah  wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu, sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan hak tersebut. Selain itu perbedaanya juga bahwa kewenangan bisa juga disebut sebagai kekuasaan yang memiliki keabsahan ( legitime power ), sedangkan kekuasaan tidak selalu memiliki keabsahan. Tetapi kewenangan dan kekuasaan tidak dapat dipisahkan dan membentuk suatu hal yang berkaitan satu sama lain, karna wewenang tanpa kekuasaan atau kekuasaan tanpa wewenang akan menyebabkan konflik dalam organisasi.

REFERENSI (di sadur dari):
  

PERANAN STAF DALAM ORGANISASI


Pengertian staf
                     Staf yaitu orang yang diangkat atau ditunjuk oleh pimpinan untuk membantu pekerjaan pimpinan sesuai dengan keahliannya untuk melaksanakan suatu tugas yang di-bebankan kepadanya. 

Fungsi Staf
        
           Staf dalam hal ini mempunyai beberapa fungsi dalam organisasi, dan fungsi utama atau yang paling yang harus dilakukan atau ada dalam fungsi staf ialah:
Ø  Berfungsi membantu pimpinan dalam menjalankan kepimipinannya, dengan cara pembagian tugas oleh pimpinan sesuai dengan keahlian stafnya tersebut.
Ø  Membantu pimpinan dalam mencari jalan tengah atau dalam hal ini memutuskan sebuah masalah untuk dicari sebuah penyelesaiannya.
Ø  Dan yang terakhir menciptakan suatu prosedur yang baik, efisien dan efektif dalam pengolahan informasi bagi pimpinan.

Peran staf

Peran atau tugas staf dalam hal ini sangatlah penting dan sangat membantu dalam suatu organisasi. Berikut adalah peran atau tugas yang dilakukan oleh staf dalam sebuah organisasi:
Ø  Memberikan tanggapan langsung terhadap pertimbangan dan saran-saran yang datangnya dari eselon bawah, untuk kemudian diteruskan kepada pimpinan.
Ø  Mengikuti pertimbangan keadaan social, ekonomi, politik dunia usaha yang sangat penting bagi pimpinan dalam menetapkan suatu kebijaksanaan.
Ø  Memperkecil waktu yang dibutuhkan untuk pengendalian, pengintergrasian serta koordinasi pelaksanaan tugas operatif.
Ø  Memperkecil kemungkinan timbulnya kesalahan-kesalahan dan memperkecil pengawasan secara detail oleh pimpinan terhadap hal-hal yang bersifat rutin.
Ø  Mengusulkan alternatif tindakan dalam menghasilkan sebuah keputusan yang diinginkan oleh pimpinan.
Ø  Mendiskusikan rencana-rencana yang sedang dipikirkan dengan berbagai hak dan memperoleh kesepakatan bersama atau memperoleh alasan mengapa rencana tersebut ditolak.
Ø  Mempersiapkan instruksi-instruksi tertulis dan dokumen-dokumen lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merupakan realisasi dari rencana yang telah ditetapkan.
Ø  Mengamati kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi yang dihadapi untuk rnengetahui apakah instruksi-instruksi yang diberikan telah dijalankan dengan baik dan apakah instruksi tersebut menghambat atau mempelancar proses pencapaian tujuan dalam organisasi.


Macam-macam staf

Pada dasarnya staf dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

A.    Staf Penasihat
Dalam hal ini staf penasihat bisa juga disebut sebagai staf pertimbangan. Fungsi utama staf penasihat ialah, sebagai pemikir bagi pimpinan, melakukan kegiatan-kegiatan berdasarkan keahlian yang dimilikinya. Dan juga staf penasihat berhak memberikan saran–saran kepada pimpinan terhadap yang menjadi tugas dan tanggung jawab pimpinan. Dalam hal ini dari staf penasihat dapat dikembangkan menjadi beberapa staf lain, antara lain ialah:

Ø  Staf perencanaan (planning staff ) yang bertugas memberikan saran-saran dalam penyusunan sebuah rencana, baik rencana pengembangan organisasi, maupun rencana penetapan suatu kebijaksanaan.
Ø  Staf peengorganisasian (organization staff ) yang bertugas memberikan saran dalam bidang organisasi dan pengorganisasian.
Ø  Staf pembinaan (motivating staff ) yang bertugas memberikan saran mengenai metode dan system pembinaan dan pengembangan pegawai.
Ø  Staf pngawasan (controlling staff ) bertugas memberikan saran kepada manajer tentang pelaksanaan dan mekanisme system pengawasan yang efektif.
Ø  Staf pengambilan keputusan (decision making staff ) yang bertugas memberikan saran-saran, dan mempersiapkan data-data yang diperlukan untuk pembuatan keputusan.

B.     Staf Pelayanan
Staf pelayanan mempunyai beberapa istilah, seperti service staff, auxiliary staff, housekeeping staff, dan ada pula yang menyebutnya dengan special staff. Fungsi utama staf pelayanan adalah membantu pimpinan dalam melancarkan tugas-tugas organisasi, dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, tetapi staf pelayanan tidak mempunyai kapasitas dalam memberikan saran atau pertimbangan.

Disamping kedua staf diatas ada juga yang disebut dengan staf pribadi. Staf pribadi ialah staf yang secara perseorangan bertindak sebagai penasihat pimpinan. Staf pribadi terdiri dari orang-orang yang memiliki keahlian yang berbeda-beda, dan juga mereka secara perseorangan memberikan saran dan bertanggung jawab langsung kepada pimpinan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing.

REFERENSI (di sadur dari):

Dasar-Dasar Ilmu Organisasi/Ig Wursanto: Ed. II.- Yogyakarta: Andi.

Jumat, 30 Desember 2011

KEPEMIMPINAN


Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang dan lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang leadership atau kepemimpinan dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya.
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Berikut adalah definisi Kepemimpinan menurut beberapa tokoh:
  •  Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
  •         Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
  •  Moejiono (2002) memandang bahwa leadership (kepemimpinan) tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
  •  Menurut M. Karyadi dalam bukunya yang berjudul kepemimpinan menyatakan, Kepemimpinan adalah memproduksi dan memancarkan pengaruh terhadap kelompok-kelompok orang-orang tertentu sehingga mereka bersedia (willing) untuk berubah fikiran, pandangan, sikap, kepercayaan, dan sebagainya.
  •  Menurut DR. Hadari Nawawi didalam bukunya yang berjudul Kepemimpinan Menurut Islam mengatakan, Kepemimpinan adalah sebagai perihal memimpin berisi kegiatan menuntun, membimbing, memandu, menunjukkan jalan, mengepalai, melatih agar orang-orang yang dipimpin dapat mengerjakan sendiri.

DEFINISI KEPEMIMPINAN MENURUT PARA TOKOH LUAR NEGERI:
  • George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998 : 17) Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Ordway Tead (1929) Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.
  • Rauch & Behling (1984) Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
  • Katz & Kahn (1978) Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada, dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
  • Hemhill & Coon (1995) Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).
  • William G.Scott (1962)Kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
  • Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977) Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang-orang lain untuk melakukan apa yang kamu inginkan dari mereka untuk mengerjakannya.
  • Dr. Thomas Gordon “ Group Centered Leadership”. A way of releasing creative power of groups. Kepemimpinan dapat dikonsepsualisasikan sebagai suatu interaksi antara seseorang dengan suatu kelompok, tepatnya antara seorang dengan anggota-anggota kelompok setiap peserta didalam interaksi memainkan peranan dan dengan cara-cara tertentu peranan itu harus dipilah-pilahkan dari suatu dengan yang lain. Dasar pemilihan merupakan soal pengaruh, pemimpin mempengaruhi dan orang lain dipengaruhi.
  • Tannenbaum, Weschler,& Massarik (1961) Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
  • P. Pigors (1935)Kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengejar tujuan bersama.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.


GAYA KEPEMIMPINAN
Pemimpin adalah orang yang memiliki kewenangan / kekuasaan untuk mempengaruhi / mengatur orang lain dalam kelompok organisasi. Menjadi pemimpin bisa karena dipilih, ditunjuk melalui musyawarah, ada pula menjadi pemimpin karena melalui paksaan yaitu dengan cara kekerasan, kepemimpinan yang dilakukan seorang pemimpin sangat tergantung pada:
1.Watak dan sifat pribadi
2. Cara mengambil keputusan dalam rapat
3. pola dan tingkah laku
  Dari tiga hal tersebut dapat melahirkan gaya kepemimpinan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Adapun gaya kepemimpinan tersebut adalah terdiri dari:
1. Gaya kepemimpinan Otokratis (Autokratis) /Otoriter
2. Gaya kepemimpinan Demokratis
3. Gaya kepemimpinan Laissez-faire / masa bodoh.


1.   Gaya Kepemimpinan Authoritarian / Otokratis / Otoriter
                                                                             Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. gaya kepemimpinan autokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung memusatkan kekuasaan kepada dirinya sendiri, mendikte bagaimana tugas harus diselesaikan, membuat keputusan secara sepihak.Berikut adalah ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis:
  1. Semua kebijakan ditentukan oleh pemimpin.
  2. Teknik dan langkah-langkah kegiatannya didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkatan yang luas.
  3. Komunikasi hanya satu arah yaitu kebawah saja.
  4.  Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap
  5. Kurang percaya diri,  Sewenang-wenang,  Kurang toleransi,  Kurang memperhatikan yang dipimpin, Memaksakan kehendak, Tidak suka dikritik,  Mudah tersinggung dan mudah marah anggota.


2.      Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic/ Partisipatif
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri. Berikut adalah ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis:
  1.  Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.
  2. Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat, dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih.
  3. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok.
  4. Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
  5. Membuat keputusan secara musyawarah Kompromis dan terbuka, Saling menghargai sesama terutama terhadap yang dipimpin, Bijaksana, Menerima saran dan kritik yang positif, Hasil keputusan untuk kepentingan bersama, Disukai yang dipimpin.


3.Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire  (Kendali Bebas)
         Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.kendali bebas juga mendeskripsikan pemimpin yang secara keseluruhan memberikan karyawannya atau kelompok kebebasan dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang menurut bawahannya paling sesuai. Berikut adalah ciri-ciri gaya kepemimpinan Bebas / Laissez Faire  (Kendali Bebas):
1.       Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari pemimpin.
2.       Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberi informasi pada saat ditanya.
3.       Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas.
4.       Kadang-kadang memberi komentar spontan terhadap kegiatan anggota atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian.
5.       Pemimpin membiarkan bawahannya untuk mengatur dirinya sendiri.
6.       Pemimpin hanya menentukan kebijaksanaan dan tujuan umum.
7.       Bawahan dapat mengambil keputusan yang relevan untuk mencapai tujuan dalam segala hal yang mereka anggap cocok.
8.       Tidak yakin pada kemampuan sendiri, Tidak berani menanggung resiko, Sangat membatasi hubungan dengan yang dipimpin,  Tidak punya pendirian yang teguh, Kurang bersemangat dan masa bodoh, Sulit menerima perubahan ke arah kebaikan, Menerima apa adanya dan tidak nyaman bersama kelompok.

        Andai saya menjadi pemimpin, saya cenderung memilih gaya kepimpinan demokratis. Alasannya karna Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dan juga menyerap suara aspirasi dari rakyatnya baik dari kelompok minoritas ataupun mayoritas. Tapi saya berkeinginan menjadi pemimpin yang bertangan besi seperti margareth teacher, beliau dapat membawa inggris dari masa-masa sulit sehingga menjadi makin makmur sampai sekarang ini. Dan saya pun tidak ingin menjadi pemimpin yang di setir atau didekte oleh arus kepentingan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu saja. Sehingga saya dapat membawa Negara yang saya pimpin kedalam kemakmuran dan dapat mensejahterakan rakya-rakyat yang ada dinegara saya secara rata dan adil baik dalam ekonomi maupun hokum serta dalam hal mendapatkan hak yang harus mereka peroleh dari negara. Karna Negara dikatakan berhasil apabila rakyat yang kita pimpin dapat sejahtera dan mendapatkan hak dan keadilan yang sama rata.

 

Dimas Amiluhur Blak Magik is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Blogger Template © 2009